Senja Kala Kekuasaan Ratu Inggris Usai Wafatnya Pangeran Philip

Ratu Inggris Elizabeth II di dalam mobil yang mengikuti mobil pembawa jenazah saat pemakaman Pangeran Philip Inggris di dalam Kastil Windsor di Windsor, Inggris Sabtu 17 April 2021. (Foto: AP)

BorneoTribun Inggris -- Keluarga Kerajaan Inggris telah mengucapkan selamat tinggal kepada Pangeran Philip, dan kini perhatian mereka akan beralih ke ulang tahun ke-95 Ratu Elizabeth II pada Rabu (21/4). Dalam beberapa bulan mendatang juga akan ada perayaan yang menandai 70 tahun penobatannya sebagai ratu.

Kombinasi peristiwa ini mengingatkan Inggris bahwa masa pemerintahan ratu, satu-satunya penguasa kerajaan yang pernah dikenal oleh sebagian besar rakyatnya, mencapai batasnya. Hal tersebut telah memicu spekulasi tentang berapa lama dia akan tetap bertakhta, seperti apa monarki di masa depan dan, bagi beberapa pihak, bahkan apakah kerajaan harus terus ada.

"Sang ratu sekarang pasti sedang memasuki masa senja pemerintahannya dan fase baru pemerintahannya," kata Anna Whitelock, Direktur Pusat Studi Monarki Modern di Royal Holloway, Universitas London. "Dia sekarang adalah seorang janda, dan masih harus dilihat bagaimana dia akan menanggapi hal itu."

Ratu Elizabeth terlihat saat pemakaman Pangeran Philip dari Inggris, suami Ratu Elizabeth, yang meninggal pada usia 99 tahun, di Kapel St George, di Windsor, Inggris, 17 April 2021. (Foto: Reuters)

Meski sebagian besar pengamat mengatakan ratu tidak mungkin turun takhta mengingat komitmen seumur hidupnya untuk memberi pelayanan publik, tetapi ratu sudah mulai menyerahkan lebih banyak tanggung jawab kepada putra sulungnya, Pangeran Charles, yang berusia 72 tahun. Proses itu kemungkinan besar akan dipercepat setelah kematian Philip.

Peran Charles mulai meningkat secara bertahap, ketika ratu mulai mengurangi penerbangan jarak jauh. Misalnya, ketika Charles menggantikannya pada pertemuan Kepala Pemerintah Persemakmuran 2013 di Sri Lanka.

Kemudian pada 2017, dia mewakili ratu pada upacara Hari Peringatan tahunan yang menandai akhir Perang Dunia I, meletakkan karangan bunga raja di Cenotaph atau monumen perang di London. Ini adalah pertama kalinya ratu tidak melakukan ritual khidmat, selain saat dia hamil atau di luar negeri.

Sejak itu, Charles semakin sering terlibat dalam kegiatan masyarakat dan ia dinobatkan sebagai pengganti ratu yang ditunjuk sebagai Kepala Persemakmuran, sebuah kumpulan yang beranggotakan 54 negara yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Inggris.

"Secara simbolis, transisi menuju suksesi sudah berlangsung," kata Ed Owens, sejarawan dan penulis "The Family Firm, Monarchy, Mass Media and the British Public 1932-53."

"Saya mengantisipasi bahwa kita akan lebih sering melihat Pangeran Charles dalam beberapa tahun ke depan sehingga kita, sebagai masyarakat, mulai melihatnya dalam perannya di masa depan sebagai raja."

Pangeran Charles berjalan di belakang mobil jenazah, Land Rover yang dimodifikasi khusus, selama pemakaman Pangeran Philip. (Foto: Leon Neal via REUTERS)

Untuk saat ini, ratu yang paling lama bertakhta dalam sejarah Inggris masih terus berkuasa. Namun dia akan melakukannya tanpa Philip, pria yang disebut ratu sebagai "kekuatan dan bertahan", sumber dukungan emosional dalam pekerjaannya yang sering kali sepi.

Kehilangan sosok Philip sangat mencolok saat upacara pemakaman pada Sabtu (17/4) di Kapel St. George di halaman Kastil Windsor. Saat itu sosok seorang janda berbalut busana hitam duduk sendirian, memberikan gambaran sekilas tentang fase soliter berikutnya dari pemerintahan ratu.

“Secara konstitusional, kematian Pangeran Philip tidak mengubah apa pun. Namun, tentu saja, pada saat ratu mendekati ulang tahunnya yang ke-95, dia rentan dan menua,” kata Whitelock. "Jelas, kematian Pangeran Philip telah memulai transisi ke masa depan dan awal dari akhir fase monarki ini."

Pertanyaan tentang akhir pemerintahan ratu juga akan memicu perdebatan tentang masa depan monarki dalam jangka Panjang. Monarki dilihat oleh banyak orang sebagai simbol persatuan nasional, tetapi oleh orang lain dianggap sebagai sisa-sisa sejarah feodal bangsa yang sudah usang.

Meski ada rasa hormat yang sangat besar untuk ratu, hal yang sama belum tentu berlaku untuk Charles dan anggota keluarga kerajaan lainnya, kata Graham Smith, Kepala Eksekutif Republik. Ia berkampanye untuk menggantikan monarki dengan kepala negara terpilih.

Kematian Philip "berfungsi sebagai pengingat bagi banyak orang, yang sehari-hari tidak terlalu memikirkan monarki, bahwa perubahan akan datang," kata Smith kepada surat kabar Express.

Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, Duke of Edinburgh, saat mereka melambai kepada pendukung dari balkon di Istana Buckingham, setelah penobatannya di Westminster Abbey, London, Juni. 2, 1953. (Foto: AP)

Pemerintahan ratu dimulai saat kematian ayahnya, Raja George VI, pada 6 Februari 1952. Dia dinobatkan sebagai ratu Inggris secara resmi pada 2 Juni 1953.

Selama upacara penobatan itu, yang disiarkan televisi di seluruh dunia, sang ratu berjanji untuk memerintah Inggris dan wilayah lainnya. Enam tahun sebelumnya, dalam pidatonya di Afrika Selatan, Putri Elizabeth saat itu menjelaskan bahwa komitmennya adalah seumur hidup.

Bahkan saat dia berduka minggu lalu, ratu menghadiri upacara yang menandai pengunduran diri Lord Chamberlain atau Kepala Urusan Rumah Tangga yang mengatur semua acara seremonial untuk istana. Selain itu, dia juga terus berkomunikasi dengan para pemimpin Persemakmuran.

Hal itu menunjukkan bahwa dia tidak berniat meniru Ratu Victoria, yang mundur dari kehidupan publik ketika suaminya, Pangeran Albert, meninggal secara tak terduga pada usia 42 tahun, kata Hardman kepada BBC. [ah/au/ft]

Oleh: VOA

Anda mungkin menyukai postingan ini