Pandemi Tak Kunjung Usai, Makin Banyak Orang Pilih Meninggal di Rumah

Brian Simmons, pemilik rumah duka dan perias jenazah, Triston McAuliff berbincang di ruang pendingin tempat penyimpanan jenazah, di Springfield, 28 Januari 2021. (Foto:AP)

Internasional, SUARATRIBUN.com - Sejak pandemi virus corona merebak, pemilik rumah duka, Brian Simmons, makin sering melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk mengambil jenazah supaya dapat dikremasi dan dibalsem.

Ketika COVID-19 menghancurkan komunitas di Missouri, dua orang karyawan rumah duka itu secara berkala mendatangi rumah-rumah di Springfield. Mereka memindahkan jenazah orang-orang yang memutuskan untuk meninggal di rumah dibanding menghabiskan hari-hari terakhir di rumah lansia atau rumah sakit, di mana pada masa pandem ini anggota keluarga dilarang berkunjung.

Simmons sangat memahami mengapa orang kini memilih meninggal di rumah. Putrinya sendiri yang berusia 49 tahun meninggal dunia akibat virus corona sebelum Natal lalu, di sebuah rumah sakit di Springfield, di mana keluarga hanya mendapat informasi soal kondisinya yang terus memburuk melalui telepon.

"Pemisahan itu, sangat, sangat berat,” ujar Simmons. “Putri saya pergi ke rumah sakit dan kami hanya melihatnya sekali melalui kaca ketika petugas rumah sakit memasang ventilator. Lalu, kami tidak pernah melihatnya lagi, hingga ia meninggal,” paparnya lirih.

Brian Simmons, pemilik rumah duka, menunjukkan foto putrinya, Rhonda Ketchum, yang meninggal karena COVID-19 menjelang Natal, di Springfield, 28 Januari 2021. (Foto: AP)

Di seluruh Amerika, pasien yang sakit parah – baik karena COVID-19 maupun penyakit-penyakit lain – mengambil keputusan yang sama. Mereka memilih meninggal di rumah dibanding menghadapi skenario mengerikan mengucapkan selama tinggal kepada orang-orang yang dikasihi dari balik kaca, atau lewat panggilan video.

“Apa yang kami lihat dalam masa Covid ini, pasien ingin berada di rumah,” ujar Judi Lund Person, Wakil Presiden National Hospice and Palliative Care Organization. “Mereka tidak ingin pergi ke rumah sakit. Mereka tidak ingin ke rumah lansia.”

Perawatan di Rumah Meningkat

Organisasi-organisasi nasional yang menyediakan layanan paliatif melaporkan fasilitas-fasilitas itu melihat peningkatan jumlah pasien yang dirawat di rumah hingga dua digit persentase.

Layanan paliatif adalah perawatan untuk pasien yang sudah tidak dapat disembuhkan atau sudah pada stadium akhir penyakit.

Fenomena ini terjadi di Caroll Hospice di Westminster, Maryland, di mana terjadi lonjakan permintaan perawatan berbasis rumah antara 30 hingga 40 persen, ujar direktur eksekutif Regina Bodnar.

Ia mengatakan menghindari rumah lansia dan risiko virus corona merupakan faktor terbesar di balik peningkatan permintaan itu.

Pemilik rumah duka, Brian Simmons, mengawasi para karyawannya mempersiapkan jenazah untuk pemakaman di Springfield, 28 Januari 2021. (Foto: AP)

Lisa Kossoudji, yang mengawasi para perawat di Ohio's Space of Dayton, membawa pulang ibunya sendiri – yang kini berusia 95 tahun – ke rumah untuk tinggal bersamanya setelah perebakan pandemi tahun lalu. Ia pernah tidak melihat ibunya selama beberapa minggu dan khawatir kondisinya memburuk karena ia dikurung di kamar, seiring upaya fasilitas itu membatasi potensi perebakan virus.

Ibu Kossoudji, yang memiliki kondisi yang menyebabkan penebalan dan pengerasan dinding arteri di bagian otak, kini menerima perawatan paliatif di rumah. Kossoudji melihat banyak keluarga-keluarga yang dilayaninya membuat pilihan serupa.

“Banyak orang yang membawa pulang anggota keluarga mereka yang memiliki banyak masalah fisik. Entah itu karena harus diberi makan lewat selang makanan atau trakea. Hal-hal yang dalam pandangan orang kebanyakan 'ya Tuhan saya tidak dapat melakukannya.' Namun, mereka membawanya pulang karena ingin bisa bersama-sama dan bisa melihat mereka,” ujarnya.

Sebelum pandemi, pekerja rumah sakit merawat pasien yang meninggal karena penyakit jantung, kanker, demensia dan penyakit mematikan lainnya di fasilitas perawatan jangka panjang. Pada tingkat yang lebih rendah, diatur sebagaimana berada di rumah. Banyak keluarga ragu membiarkan anggota keluarga mereka meninggal di rumah karena tantangan logistik, termasuk jadwal kerja dan kebutuhan medis yang rumit.

Seorang petugas gawat darurat mendorong pasien ke ruang gawat darurat di tempat pengantaran pasien COVID-19 di Placentia, California, 8 Januari 2021. (Foto: AP)

Namun, pandemi mengubah banyak hal. Orang-orang tiba-tiba harus bekerja dari rumah dan memiliki lebih banyak waktu, dan mereka lebih nyaman dengan perawatan di rumah karena mengetahui kurangnya kesempatan berkunjung di rumah-rumah lansia itu.

“Apa yang terjadi saat Covid ini adalah semua menggunakan steroids. Semua terjadi begitu cepat dan semua anggota keluarga dekat bersiap merawat orang yang mereka sayangi di rumah,” ujar Carole Fisher, Presiden National Partnership for Healthcare and Hospice Innovation. “Semua jadi selaras.”

“Ada keluarga yang mengatakan saya bisa merawat ibu yang sudah lansia dengan cara yang sangat berbeda dibanding sebelumnya karena sekarang saya bekerja dari rumah,” ujarnya. “Lebih ada rasa kebersamaan dalam keluarga karena Covid.”

Meninggal di rumah bukan untuk semua orang. Merawat orang yang sakit parah dapat berarti tidak tidur pada malam hari dan menambah stres ketika pandemi meluas.

Karen Rubel mengingat bagaimana ia semula tidak ingin membawa ibunya sendiri yang berusia 81 tahun ke rumah sakit ketika ia terkena serangan stroke September lalu, dan kemudian berupaya sekuat tenaga untuk membawanya pulang sesegera mungkin. Rubel adalah presiden dan CEO Nathan Adelson Hospice di Las Vegas, yang mengubah salah satu fasilitas rawat inap menjadi tempat perawatan khusus pasien COVID-19.

“Saya memahami dari mana orang-orang berasal,” ujarnya. “Mereka ketakutan.” [VOA/FM]